Albert Siagian : Prajuritku, Tabah Sampai Akhir

Dalam jajaran TNI-AL, Indonesia sudah pernah memiliki kapal selam dengan nama yang sama yaitu Nanggala, yang pertama buatan Rusia dan yang kedua buatan Jerman. KRI Nanggala (402) yang hilang kontak pada Rabu, 21 April 2021 direncanakan menjadi bagian dari latihan penembakan torpedo di Laut Bali. Kabar hilangnya kapal selam KRI Nanggala-402 sendiri dipastikan kebenarannya oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, yang kemudian kapal selam kebanggaan Indonesia ini alami kecelakaan di perairan Bali dan dinyatakan subsunk di kedalaman 838 meter. Nanggala 402 mengalami keretakan dan patah 3 bagian.

Nanggala 402 merupakan kapal selam kedua dalam jenis kapal selam kelas Cakra. KRI Nanggala berada di bawah kendali Satuan Kapal Selam Komando Armada RI Kawasan Timur dan termasuk dalam armada pemukul TNI Angkatan Laut. Nama Nanggala berasal dari nama senjata pewayangan Nanggala.

Kapal selam Nanggala yang pertama dan berasal dari Rusia tersebut, salah satu misi penting yang berhasil dilakukan adalah penyerbuan dan pendaratan ke Irian Barat yang diperintahkan melakukan “Silent Landing” 4 regu pasukan komando di pantai utara Irian Barat pada tahun 1962.

One way ticket. Hanya untuk satu kali tujuan. Tidak ada cerita untuk pulang saat itu. Prajurit TNI bertugas untuk mati merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Sedangkan kapal selam Nanggala yang kedua dibuat dari pabriknya di Jerman. Nanggala ini diserahterimakan ke TNI AL dan langsung bergabung dalam Komando Armada II di Surabaya pada 21 Juli 1981. Kapal selam Nanggala yang memiliki kode lambung kapal 402 atau biasa disebut Nanggala II ini juga memiliki tugas serta misi yang tidak kalah penting dalam rangka menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; selain banyak juga misi rahasia yang diemban kapal selam ini sehingga kerap dijuluki Monster Laut, hal ini sesuai dengan sifat kapal selam yang strategis, yaitu senyap dan tidak diketahui keberadaannya.

READ  Cegah Penyebaran Varian Baru Korona dengan Disiplin Prokes, Penelusuran, dan Pengetesan

Sebuah simbol kebanggaan yang melekat di dada kanan setiap awak kapal selam berupa Brevet Hiu Kencana. Bukan sekedar simbol karena pada setiap pemakainya melekat pula kebanggaan, semangat juang pantang menyerah dan dedikasi untuk selalu mengabdi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semboyan korps Hiu Kencana yang pertama kali dimunculkan pada tahun 1961 oleh Laksma TNI (Purn) RP Poernomo dan hingga kini moto tersebut masih dipertahankan, beliau adalah salah satu komandan kapal selam RI pertama Indonesia.

Menurut Poernomo menjadi awak kapal selam itu, berani saja tidak cukup, ulet saja tidak cukup, sabar saja tidak cukup, tekun saja tidak cukup, tenang saja pun tidak cukup. Sifat-sifat tadi semuanya diperlukan.

Menurut Poernomo ada  satu kata yang dapat mewakili semua sifat tadi, yaitu “Tabah”. Orang yang tabah tidak akan takut, karena ia berani. Orang yang tabah tidak akan menyerah, karena ia ulet. Orang yang tabah tidak terburu-buru, karena ia sabar. Orang yang tabah tidak akan kehilangan akal, karena ia tenang. Orang yang tabah tidak akan mundur, karena ia teguh.

Tabah atau ketabahan mencakup semua sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi awak kapal selam yang baik. Namun tabah saja tidak cukup jika hanya muncul pada permulaan atau pertengahan saja. Tabah saja tidak cukup bila muncul hanya sejenak sebelum tugas selesai; karena itu tabah harus sampai akhir.

Ketika mendengar kabar Nanggala 402 hilang kontak pada tanggal 21 April 2021 lalu, saya yakin bahwa seluruh awak kapal terus mengupayakan yang terbaik bagi bangsa dan Negara serta keluarga. Seluruh awak memegang teguh jiwa korsa yang mereka miliki melalui Brevet Hiu Kencana ini. Saat itu ketabahan diuji bagi mereka seluruh awak kapal dan saat ini bagi kita semua rakyat Indonesia untuk tetap mendoakan yang terbaik, tabah hingga akhir.

READ  Presiden Jokowi Lantik Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri

Selamat jalan prajuritku, selamat jalan pejuangku. Kami mengenangmu, patriot bangsa.

Ir. Albert Siagian

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*