Antonius Natan : Terpanggil Menjadi Pelopor Moderasi Beragama

Antonius Natan

TERPANGGIL MENJADI PELOPOR MODERASI BERAGAMA

Rangkaian ibadah menjelang paskah adalah moment khusus bagi umat Kristiani. Minggu Palma adalah bagian dari ibadah yang jalani dengan khusyuk. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh pengurus gereja, selain mempersiapkan diri dengan pengakuan dosa dan tobat, gereja juga dihiasi dengan daun Palma. Tetapi kesucian ibadah dirusak oleh manusia yang tersesat, bom bunuh diri diledakan di depan pintu Gereja Katolik katedral Hati Yesus Yang Mahakudus.

Ulah teroris mencabik keharmonisan yang telah dijalin dan dirawat selama ini. Akibat segelintir teroris perusak perdamaian dengan sesaat bisa meluluhlantahkan nilai-nilai kemanusiaan. Kekhawatiran dan kecurigaan terhadap agama dan tetangga kembali mencuat. Dibutuhkan kesabaran dan kebesaran hati untuk menata ulang kepercayaan dan saling menghormati satu dengan lainnya.

Merajut keharmonisan kepelbagaian di nusantara bukanlah persoalan sederhana, perlu waktu tenaga dan dana agar kedamaian dan persatuan antar umat beragama terekat.

Menafsirkan Agama

Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, penodongan pistol “air gun” di Mabes Polri dan sejumlah bom bunuh diri diberbagai lokasi merupakan akibat dari pola pemahaman, penghayatan dan nalar yang keliru terhadap teks ajaran agama. Selain itu ada faktor lain yang mendominasi seperti pola asuh yang salah pada masa kecil, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya. Penghayatan dan tafsir terhadap teks ajaran yang keliru bermetamorfosa sebagai satu-satunya kebenaran hakiki. Sehingga menjadikan manusia lain yang berbeda keyakinan dianggap sesat dan menjadi fatal apabila tindakan bom bunuh dirinya dijadikan pembenaran.

Tafsir atas teks Kitab Suci sebuah agama adalah lazim terjadi, dan merupakan bagian dari pendidikan teologi. Akan tetapi banyak orang sebagai pembelajar agama yang turut melakukan tafsir pribadi, sehingga beragam pula tafsiran terhadap teks tersebut dengan atau tanpa memperhatikan jaman, situasi, kondisi atau latar belakang teks ditulis. Teks Kitab Suci dalam agama tertentu memang satu. Akan tetapi tafsir atas teks itu tidak tunggal, melainkan banyak dan beragam.

READ  Presiden Joko Widodo Resmikan Jalan Tol Kelapa Gading – Pulo Gebang

Keragaman tafsir tidak terhindari dalam komunitas agama apapun. Tetapi dalam Hermenutika dan eksegese teks Kitab Suci tidak berdiri sendiri ada tata cara tafsir dan interpretasinya. Perlu disadari Tafsir tersebut dilakukan oleh manusia bukan malaikat. Walau dalam Kekristenan dipercaya ada kuasa Roh Kudus menyertai teolog.

Memperhatikan multitafsir yang terjadi dalam pemahaman Teks Kitab Suci, diperlukan Teolog-teolog masing masing agama meluruskan kembali tafsir-tafsir yang salah, keliru dan kurang tepat. Hal ini merupakan upaya mencegah penyesatan dan pelanggaran arti Kitab Suci. Tafsir yang menyesatkan menjadikan manusia radikal, menganggap diri benar dan sikap mempersalahkan manusia lain dan berujung menjadi teroris.

Tentunya disadari setiap pemeluk agama wajib mengimani atau meyakini agamanya, sehingga menjadikan penafsiran agam yang dianut adalah satu-satunya kebenaran mutlak dan menganggap orang lain yang berbeda dengan pemahaman adalah salah.

Menjadi Pelopor Moderasi Beragama

Kata mo.de.ra.si /modêrasi/ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian 1. n pengurangan kekerasan, 2 n penghindaran keekstreman.

Pemahaman terkait pengurangan kekerasan, penghindaran keekstriman merupakan lawan dari fundamenatlis dan terorisme, yang pada dekade ini eskalasinya terus meningkat, sehingga memicu ketegangan dan ketakutan. Untuk itu perlu dilakukan kajian dan diskusi agar masyarakat Indonesia bisa terlepas dari persoalan ini.

Teks dalam Kitab Suci agama Kristen menyatakan bahwa penyesatan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia, diawali dari rayuan setan kepada Adam dan Hawa yang merusak citra manusia. Disamping itu Agama Kristen mengajarkan bahwa manusia harus beriman dan melawan kuasa setan. Manusia diberikan kuasa oleh Allah.

Setan sebagai bapak penyesat acap kali melakukan tindakan teror dan memiliki sifat sebagai teroris. Tentu sebagai umat beragama perlu upaya untuk mengobati dan melakukan antisipasi terhadap tindakan terorisme. Sejak jaman purba teroris telah lahir. Alangkah tidak tepat mengkaitkan ajaran teroris dengan ajaran agama tertentu, walau fakta menyatakan di kartu tanda pengenal mencantumkan agama yang dianutnya.

READ  Pimpin Upacara di Istana, Presiden Kenakan Pakaian Adat Lampung

Mengkaitkan pelaku terorisme dengan ajaran agama memang terjadi yang disebabkan tafsir yang salah dalam ajaran agama yang bersangkutan. Tetapi pada hakekatnya tidak ada satu agama apapun melegalkan tindakan terorisme dan perbuatan inskonstitusional. Etika dan moral sebagai batasan perilaku menentang seluruh tindakan terorisme.

Dalam agama Kristen, fundamentalisme muncul karena ingin membendung bahaya modernisme yang dianggap telah mengotori kesucian agama dan ingin kembali kepada teks kitab Suci.

Menurut Wikipedia, Bagi Kekristenan, kaum moderat dalam evangelikalisme akan menentang gagasan-gagasan Kristen sayap kanan dan fundamentalisme Kristen, menentang pernikahan sesama jenis tetapi menentang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, serta orang Kristen liberal menentang gagasan kiri Kristen sayap kiri.

Memahami agama dan pengamalan ajaran agama secara holistik merupakan solusi menuju keharmonisan lintas agama. Pembelajaran dari yang disebut penganut fundamenatalis hingga moderat.

Untuk memperkuat pemahaman agama kaitannya dengan keadaan kebangsaaan dan dinamika keagamaan di Indonesia, pemerintah dan masyarakat khususnya Nahdlatul Ulama (NU) terus menggelorakan Islam Moderat

Dikutip dari NU online, Islam moderat berarti cara pandang keseluruhan (kaaffah) terhadap Islam itu sendiri par excellence, tanpa harus terjebak dikotomisasi kepentingan sektarian.

Menurut Prof. Dr. Kudret, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara Islam moderat dimaksudkan sebagai konsep yang melawan aksi teror yang mengatasnamakan agama, yang tidak memiliki batas-batas Islam, kemanusiaan, moral, kesadaran, dimanapun itu berada, tidak ada seorang pun yang memiliki akan menentang perjuangan semacam ini.

Menurut Imam Shamsi Ali, imam di Islamic centre di New York, Amerika Serikat Istilah moderat, dan lawan katanya ekstremisme dan radikalisme, sejak beberapa tahun terakhir menjadi sangat popular. Sesungguhnya ketika menyebut Islam, maka bagi seorang yang paham tentang agama ini secara otomatis akan memahaminya sebagai petunjuk hidup moderate. Moderate dalam arti “imbang” dan tidak melampaui batas-batas kealamiaan kemanusiaan. Dalam segala aspek ajarannya Islam itu berkarakter “imbang” (moderate).

READ  Kemensos dan BRSLU Budhi Dharma Serahkan Kursi Roda, Serindo Banten Apresiasi Pelayanan Lansia

Prof. Dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an dan mantan Menteri Agama pernah mencontohkan perilaku moderat dalam keseharian manusia di antaranya: sikap dermawan itu adalah kondisi moderat di antara kikir dan boros, sikap berani itu adalah kondisi moderat di antara takut dan nekat.

Saat ini kita perlu menyelamatkan generasi-generasi penerus bangsa, generasi yang takut akan Tuhan, generasi yang mencintai tanah air Indonesia, generasi yang paham terhadap nilai-nilai Pancasila, generasi yang mengenali agamanya secara benar. generasi yang saleh dan memiliki iman yang moderat. Keseluruhannya diawali dengan keluarga yang memahami hakekat pernikahan, Orang tua yang peduli terhadap pendidikan dan perilaku anak-anak.

Masyarakat perlu bersikap proaktif menciptakan perdamaian dan kerukunan diwilayah masing-masing. Dengan melibatkan Komunitas dilingkungan RT dan RW yang dibangun dengan saling menghormati kepelbagaian Kegiatan-kegiatan membangun harmonisasi dan kenyamanan, peranan ini tentunya melibatkan pimpinan agama, penggiat agama, Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Tentu saja profesi lain seperti guru, pendidik, dosen, petani, pekerja kantoran, pengusaha dapat melibatkan diri dalam kebersamaan ini. Mari saatnya kita bergerak cintai tanah air Indonesia, ciptakan keharmonisan..

Pro Ecclesia Et Patria

 

Antonius Natan
Dosen STT LETS (Lighthouse Equipping Theological school)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*