Errol Jonathans : Ketidakakuratan adalah Kriminal Terbesar dalam Kerja Jurnalistik

Errol Jonathans/SuaraSurabaya

Surabaya, citynews.id – Ketika berbicara dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi KWI pada 22/4/21, Errol Jonathans mengatakan setuju dengan ungkapan “Ketidakakuratan adalah kriminal terbesar dalam ranah jurnalisme”. Menurutnya, seorang jurnalis harus bekerja secara sungguh-sungguh agar bisa menyajikan informasi yang akurat kepada pembacanya. Untuk itu lanjutnya, sang wartawan harus berusaha menemukan kebenaran yang hakiki dengan menerapkan cara kerja jurnalistik. “Jurnalis, turunlah ke lapangan, habiskan sol sepatumu di sana,” serunya, demikian TempusDei memberitakan.

Errol Jonathans, eks reporter Pos Kota ini adalah tokoh media yang turut membesarkan Radio Suara Surabaya di Jawa Timur. Kepada Kumparan.com, beberapa waktu lalu Errol mengemukakan faktor komunikasi dan informasi sangat penting, khususnya terkait strategi dan sistem komunikasi. Ditengah situasi pandemi Covid-19, peranan media massa sangat besar, kalau selama ini masyarakat lebih aktif di media sosial, seakan-akan media mainstream belum berperan. “Media mainstream justru harus menjadi sentra informasi, sosialisasi dan edukasi tentang Covid-19”, urainya saat itu.

Lanjut menukil laman Tempusdei, disebutkan karena prinsipnya tersebut, CEO Radio Suara Surabaya ini setuju dengan ajakan Paus Fransiskus dalam pesannya pada Hari Komunikasi Sedunia ke-55 pada 2021 ini yang berjudul Datang dan Lihatlah; Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya.

Menurut Paus Fransiskus dalam pesan tersebut, mendengar secara langsung dan sungguh-sungguh dari lapangan tidak tergantikan. Untuk itu jelas Errol, jurnalis diminta untuk tinggal bersama orang-orang dan mendengarkan. “Ini prisip dasar jurnalistik. Harus turun ke lapangan, tidak hanya melihat dan mendengar dari jauh. Jangan memberitakan yang ‘konon katanya’ atau hanya dengar-dengar,” ungkap Errol mengingatkan.

Bagi Errol, seorang jurnalis wajib turun ke lapangan untuk mendapatkan kebenaran, menemukan kepastian, menggali dan menemukan fakta-fakta. “Kita ke lapangan untuk melakukan cek dan ricek, melakukan konfirmasi atas informasi yang kita terima, melakukan verifikasi dan investigasi,” katanya.

READ  Presiden Minta Papua Kebut Vaksinasi Untuk Persiapan PON dan Perparnas

Ia menunjuk contoh, sekarang ini, melalui WA-WA grup, para jurnalis mendapatkan info-info awal yang kemudian harus diverifikasi dan ditemukan kebenarannya dengan turun ke lapangan.

Errol mengeritik kecenderungan wartawan sekarang yang enggan ke lapangan lalu memunculkan fenomena “jurnalisme opini” atau “jurnalisme komentar”, yaitu jenis jurnalisme yang hanya memuat opini hasil wawancara dengan narasumber. “Mereka tidak ke lapangan, tetapi hanya meminta komentar, dan hanya ini yang dikerjakan oleh jurnalis. Tidak ada data pendukung lain yang dia temukan di lapangan,” kritik Errol.

Lebih dari itu kata Errol lebih jauh, sekarang ini muncul media partisan yang tidak independen karena hanya melayani kepentingan tertentu. “Dari sini lalu muncul yang namanya framing atau pembingkaian: sang jurnalis melakukan settingan untuk mengarahkan isi atau opini yang dimunculkan berdasarkan frame yang telah dibuat,” jelasnya prihatin.

Errol mengamati, ada juga wartawan yang hanya melakukan plagiasi dengan yang hanya mencomot berita dari media-media lain yang tidak menyebutkan sumber informasinya.

Dia juga menemukan pola kerja “news pool”. Dalam pola ini, sejumlah wartawan berkumpul di suatu tempat atau “pool”, lalu menyebar mencari berita, kemudian berkumpul lagi untuk berbagi informasi atau berita. “Jadi sangat mungkin seorang wartawan memuat berita atau informasi yang tidak pernah ia liput. Gejala-gejala tersebut, sangat relevan dengan pesan Paus. Kita perlu sungguh-sungguh perhatikan,” tegasnya.

“Kembali ke lapangan menjadi emas di masa sekarang, dan ini harus didorong. Kembali ke lapangan, kebenaran itu ada di sana. Kata paus, kita harus terpanggil menjadi saksi kebenaran, untuk itu kita harus pergi melihat kebenaran itu,” tambahnya lagi.

Narasumber lain dalam webinar ini adalah Alex Madji, mantan wartawan koran Suara Pembaruan. Sejalan dengan Paus dan Errol, Alex mengatakan bahwa wartawan itu harus pergi melihat. Tempat kerja wartawan harus di lapangan, bukan di kantor. “Pagi, dia boleh makan bersama Presiden, tapi pada siang atau sore dia bisa berada di antara orang di pinggir kali. Ini sangat tergantung juga pada semangat dan motivasi kerja wartawan itu. Sekarang ini (maksudnya di masa Covid-19) antara takut dan malas sudah sangat tipis,” kata alumnus STF Driyarkara Jakarta ini.

READ  Presiden Jokowi Minta Agresi Israel ke Palestina Dihentikan

Lantas bagaimana dengan kondisi pandemi saat ini? Menurut Errol, reporter tetap harus ke lapangan, tapi tetap waspada. Bisa juga, turun ke lapangan diganti dengan upaya verifikasi yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan informasi yang benar-benar akurat. Untuk itu, spirit jurnalisme tetap harus dijaga.

Senada dengan Errol, Alex menegaskan bahwa seorang jurnalis dipanggil untuk menjadi pewarta, dan yang diwartakan hanya kebenaran. [EDL/TempusDei]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*