Peradaban Gotongroyong berhadapan dengan Peradaban Barat dan Peradaban Tionghoa

Peradaban Gotongroyong

Jakarta, Citynews.id Peradaban Gotongroyong berhadapan dengan Peradaban Barat dan Peradaban Tionghoa

Manusia gotongroyong, lahir dan hidup bersama dalam semangat persaudaraan. Nilai persaudaraan diwujudkan dalam pola pikir dan perilaku: “semua bertanggung jawab untuk semua”. Semua warga dapat berbagi rasa dan berbagi beban, berbagi suka dan duka. Individu yang satu dengan yang lain bisa saja memiliki pemikiran dan kepentingan yang berbeda, tetapi dalam kehidupan kemasyarakatan, mereka bersedia hidup bersama dalam persaudaraan; penderitaan seseorang dapat dirasakan yang lain, dan kemudian bersama-sama mengatasinya.

Nilai persaudaraan  adalah perkembangan lebih lanjut dari persaudaraan yang tumbuh dalam keluarga, kemudian masuk dalam kehidupan kelompok kecil, dan selanjutnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Persaudaran bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba, tetapi hasil dari perjalanan hidup bersama yang panjang. Persaudaraan harus terus dipupuk dengan selalu mengedepankan kepentingan bersama. Dalam kehidupan ini, sikaya memberikan sebagian kekayaannya membantu simiskin, sikuat menggunakan kekuatannya menolong silemah, penguasa menggunakan kekuasaannya membantu yang tidak kuasa, orang sehat mengurus yang sakit, dan orang hidup mengurus yang mati.

Baca Juga: Jalan Tol Trans Sumatera Penggerak Ekonomi Baru Indonesia

Musyawarah adalah proses pengambilan keputusan dengan mendengarkan, memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai pendapat peserta pertemuan; setelah semua pihak menyampaikan pendapatnya, peserta pertemuan mendiskusikan berbagai pendapat tersebut, dan kemudian disusun suatu kesepakatan bersama. Dalam musyawarah penentuan kesepakatan lebih banyak ditentukan oleh kebenaran dan atau kebaikan dari suatu gagasan; musyawarah menomorduakan besarnya suara yang mendukung suatu gagasan. Isi kesepakatan kerapkali adalah gabungan dari berbagai gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut. Oleh karena itu kesepakatan hasil dari suatu musyawarah sering lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas.

READ  Perubahan Kelima UUD 1945 belum dibutuhkan

Kerjasama Sukarela Manusia Merdeka

Itu pula sebabnya mengapa gotongroyong, yang adalah kerjasama sukarela manusia merdeka yang setara, memilih cara musyawarah untuk memperoleh mufakat. Hatta, dalam Pidato Radio 15 Desember 1945, menyatakan bahwa kata mufakat mestilah ada, barulah kedaulatan itu ada pada rakyat. Putusan yang diambil oleh satu orang atau satu golongan saja tanpa persetujuan rakyat, bukanlah kedaulatan rakyat. Demikian juga kata mufakat yang dipaksakan kepada rakyat. Untuk melakukan tindakan yang menentukan nasib orang banyak, hendaklah diputuskan oleh orang banyak pula, dengan perantaraan rapatnya atau dewan perwakilannya.

Gotongroyong diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan bertahan sampai sekarang; di bagian akhir pidato 1 Juni 1945 dalam Sidang BPUPKI, Soekarno menyatakan bahwa Negara Indonesia haruslah Negara gotongroyong; gotongroyong adalah membanting tulang bersama, memeras keringat bersama, bantu membantu; amal semua buat kepentingan semua; keringat semua buat kebahagiaan semua. Soekarno mengusulkan gotongroyong dalam penyelenggaraan negara Republik Indonesia, yang akan membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia; kerjasama sukarela, bantu membantu dan tolong menolong; keringat semua buat kebahagiaan semua; semua bekerja dan semua berbahagia.  Soekarno mengusulkan gotongroyong dalam mendirikan dan menyelenggaraan negara Republik Indonesia; yang akan membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia; kerjasama sukarela, bantu membantu dan tolong menolong; keringat semua buat kebahagiaan semua; semua bekerja dan semua berbahagia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*