Serat Prabu Jayabaya Sekarang Jaman Gila

Sekat

SERAT PRABU JAYABAYA SEKARANG JAMAN GILA

Catatan Budaya : KP Norman Hadinegoro.

Serat Prabu Jayabaya beberapa abad yang silam ialah abad 16 menginspirasi kehidupan dan tata nilai kita yang semakin tergeser oleh nafsu serakah. Yang sehatpun pada nggaragas ialah nafsu serakah. KP Norman sebagai pemerhati Budaya Adiluhung wajib mengingatkan kembali pesan leluhur kepada generasi Milenial.

“Pancen wolak-waliking jaman..amenangi jaman edan nek ora edan ora kumanan sing waras padha nggragas…wong tani padha ditaleni..wong dora padha ura-ura beja-bejane sing lali,..isih beja kang eling lan waspadha”

Pengertian dalam Bahasa Indonesianya…
“Sungguh zaman sudah terbolak balik..memasuki zaman gila.. kalo tidak ikut gila tidak dapat bagian..yang sehat pada serakah….para petani dibelenggu..para penipu/pembohong pada bersuka ria..seberuntung beruntungnya orang yang lupa masih beruntung yang Ingat dan Waspada “

Ungkapan tersebut diatas adalah salah satu buah pikiran Prabu Jayabaya dalam Jangka Jayabaya yaitu prediksi masa depan Nusantara, Ungkapan tertulis sejak abad 16 silam

Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

Bila kita terapkan dengan yang terjadi sekarang, sepertinya sangat relevan banget bahkan pas awal klop malkotlop. Jaman yang katanya modern era digital dan super canggih ini tidak di imbangi dengan Akhlak dan moral yang baik, maka yang terjadi adalah ketimpangan yang memprihatinkan…

Dalam maksud “Amenangi Jaman Edan” ( menemui/memasuki Jaman Edan) adalah jaman dimana kewarasan akhlak dan moral terkesampingkan oleh tuntutan jaman, bagi yg tidak bsa mengikuti dikatakan Katrok, Ndeso, Kamseupay, kampungan, bulukan, payahhh…..dan beribu umpatan yang terkesan rendah….

READ  Menko Marves: Kereta Bandara Beroperasi, Dongkrak Pariwisata Yogya

Budaya sopan santun hanya tertata rapi sebatas tulisan… Anak anak kecil dijejali dengan teknologi digital yang tidak karuan, adab sopan santun dan budi pekerti sebatas dongengan…itupun kalo sempat ndongengke….

Dalam dunia pendidikan Pengajaran etika, adab dan Agama jatah jamnya kalah jauh dengan pelajaran2 lainnya yang dianggap relevan dengan Teknologi Modern…Pelajaran2 hanya mengandalkan kecerdasan otak tanpa di imbangi kecerdasan hati dan spiritual…

Maka yang terjadi adalah terciptanya mayat mayat hidup yang tidak punya hati…, kebejatan, kemaksiyatan, premanisme, malingisme, rampokisme, dan bobroknya moral tumbuh subur di mana-mana bukan saja di kalangan rakyat kecil bahkan di kalangan Pemerintahanpun lebih parah lagi.

Hukum layaknya barang loakan yang dipasarkan oleh penegak-penegak hukum, dijual belikan pasal demi pasalnya….
“Halahh memang jamannya harus mesti begitu og mbah…mereka2 itu nampaknya saja waras mbah…..tapi jiwanya sebenere pada sakit mbah…”
” Sakit piye tow le….?”
” Hla ndak sakit gmana tow mbah….hla wong mereka itu kan sebenere tau mana yang salah mana yang bener….. mana yang layak dan mana yang tidak…mana yang baik dan mana yang buruk … kalo mereka pada punya hati pada ngrumangsani dan sehat jiwanya..pasti ndak bakalan nglakukan yang salah, yang ndak layak, yang ndak bener…. hla nyatanya,,,,,,,?????…ya tow mbahh…”
” Iyow le….denganren utekmu mlethik rodo normal gitu..le…heheh…”

” Owalah mbahh….biar saya ini Tukang Ojek, tapi saya berusaha jujur dan pake hati mbah….pasang tarif ya sesuai, ndak pengduli itu wonge kaya atau kere, nganterke penumpang yo pas sampek tujuan, bahkan kemaren si Painem pembantune Juragan Tempe yang semlohek itu ngojek saya dan uange ternyata kurang aja .. malah tak gratisin kok mbah……wuichh…swenenge poll mbahh..langsung mlangkring nggemblok…nyikep sisan…qiqiqiq……empuk mbahh…….
” Hladalahhh…..dasar utekmu..utek mesum lee….. rumangsamu simbah ndak gelem pow….???”

READ  Pulau Untung Jawa di Jakarta Masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia

Dan juga di dunia wong tani yang notabene pemenuh kebutuhan sandang pangan papan rakyat banyak wae seringkali dipermainkan…jerih payahnya ndak di hargai yang sepadan…. tengkulak2 mbeling berkeliaran nimbun hasil tani..untuk dijual lebih berpuluh kali lipat dari harga belinya…..seperti yang terjadi akhir2 ini.

Hla kalo petani pada mutung ndak mau bertani….lakyo malah tambah nyengsarake orang banyak tow…kebutuhan2 pokok harus ngimport dari negara lain dan so pasti hargane lakyo melambung koyo plendungan tow….

Mangka dari itu…biarlah yang ngedan tetep ngedan mempertaruhkan kewarasannya… dan kita-kita yang rumongso waras ya jangan ngikut edan..jangan khawatir dan takut kalo ndak kebagian..
“Kolak waloh bubur candil……Gusti Alloh Maha Adil…”., dan memang bener ungkapan pada kata-kata terakhir itu…

” Sak beja-bejane sing lali,..isih beja kang eling lan waspadha”
Seberuntung beruntungnya orang yang lupa masih beruntung yang Ingat dan Waspada “

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*